Kubu Raya post authorKiwi 16 Mei 2026

Bang Usen, Rentenir, dan Mimpi Berangkat ke Tanah Suci

Photo of Bang Usen, Rentenir, dan Mimpi Berangkat ke Tanah Suci Bang Usen bersama rekan-rekan neyalan yang terbagung dalam Bagan Bang Usen, siap melaut untuk mencari ikan sebagai bagian dari kehidupan nelayan di Desa Sungai Kakap.

KUBU RAYA, SP - Angin asin dari muara Sungai Kakap berembus pelan sore itu. Bau solar bercampur amis ikan memenuhi dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Di antara suara buruh angkut yang saling bersahutan dan denting rantai kapal yang beradu diterpa ombak, seorang pria paruh baya duduk terdiam di tepi dermaga kayu.
Tatapannya jauh mengarah ke laut lepas Natuna. Orang-orang memanggilnya Bang Usen.

Nama lengkapnya Husin, seorang nelayan tangkap kecil yang sejak belasan tahun menggantungkan hidup dari laut.
Kulitnya legam terbakar matahari, telapak tangannya kasar oleh tali dan jaring, sementara garis-garis di wajahnya seperti menyimpan kisah panjang tentang perjuangan hidup.

Di belakangnya, beberapa anak buah kapal sibuk menurunkan kotak ikan dari perahu kayu sederhana yang baru bersandar.
Hasil tangkapan hari itu tidak terlalu banyak. Hanya beberapa keranjang ikan campur dan cumi-cumi hasil melaut dua malam.

Namun bagi Bang Usen, pulang dengan selamat sudah menjadi syukur terbesar.

“Kalau laut sedang baik, kami bisa bawa pulang hasil lumayan. Tapi kalau cuaca buruk, solar habis, ikan sedikit, utang tetap jalan,” katanya lirih.

Tejerat Utang Rentenir

Bagi nelayan kecil di Sungai Kakap, hidup tak pernah benar-benar mudah.

Setiap kali hendak melaut, ada biaya yang harus disiapkan: membeli bahan bakar minyak, es batu, logistik makanan, hingga biaya sewa kapal.

Sementara penghasilan baru ada setelah ikan berhasil ditangkap dan dijual. Persoalannya, banyak nelayan kecil tidak memiliki modal cukup.Termasuk Bang Usen.

Selama bertahun-tahun, ia dan kelompok nelayannya bergantung pada pinjaman para rentenir atau tengkulak.

Mereka meminjam uang sebelum berangkat melaut, lalu wajib menjual seluruh hasil tangkapan kepada pemberi pinjaman dengan harga yang sudah ditentukan.

Sekilas terlihat seperti hubungan saling membantu. Namun dalam praktiknya, nelayan sering berada di posisi paling lemah.

Harga ikan ditekan rendah. Bunga pinjaman terus berjalan. Jika hasil tangkapan sedikit, utang akan menumpuk untuk keberangkatan berikutnya.

“Kadang kami belum selesai bayar utang lama, sudah harus pinjam lagi untuk melaut berikutnya. Begitu terus,” kenang Bang Usen.
Ia mengaku pernah berada di titik paling sulit ketika ombak besar membuat mereka gagal melaut selama beberapa minggu. Tidak ada pemasukan, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Di rumah sederhananya, sang istri harus berhemat sebisa mungkin. Anak-anak mereka tetap membutuhkan biaya sekolah. Bahkan membeli beras pun kadang harus menunggu hasil tangkapan berikutnya.

“Yang paling berat itu kalau pulang melaut ikan sedikit. Kami sudah capek di laut, tapi hasil habis untuk bayar utang,” ujarnya.

Tak Tersentuh Akses

Kesulitan nelayan kecil bukan hanya soal cuaca dan hasil tangkapan. Bang Usen bercerita, dirinya tidak memiliki kapal sendiri.
Ia hanya menyewa perahu untuk melaut bersama kelompoknya yang dikenal dengan nama Bagan Bang Usen.

Karena tidak memiliki legalitas usaha lengkap, mereka juga kesulitan mengakses BBM subsidi nelayan dari SPBUN.

“Yang bisa ambil solar subsidi itu biasanya yang punya dokumen lengkap dan kapal sendiri. Kami ini nelayan kecil,” katanya.

Akibatnya, biaya operasional mereka jauh lebih mahal. Solar menjadi kebutuhan paling besar dalam setiap perjalanan melaut. Jika harga BBM naik atau pasokan sulit, penghasilan nelayan langsung terpukul.
Di tengah kondisi seperti itu, pilihan tercepat bagi banyak nelayan hanyalah kembali kepada rentenir.

“Kalau tidak pinjam, kami tidak bisa berangkat melaut,” ucapnya.

Anugerah Sebuah Pendampingan

Harapan mulai datang ketika Bang Usen dikenalkan dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Awalnya ia ragu. Baginya, bank terasa seperti sesuatu yang jauh dari kehidupan nelayan kecil. Ia khawatir prosesnya rumit dan membutuhkan jaminan besar.

Namun keraguan itu perlahan hilang ketika petugas BRI bersama pendamping usaha mulai turun langsung ke kawasan nelayan Sungai Kakap.

Mereka tidak hanya datang menawarkan pinjaman. Mereka mendengarkan cerita para nelayan.

Petugas BRI membantu menjelaskan pola pembiayaan yang lebih ringan, cicilan yang disesuaikan kemampuan usaha, hingga pentingnya pengelolaan keuangan kelompok nelayan.

“Dulu kami pikir bank itu hanya untuk orang besar. Ternyata nelayan kecil seperti kami juga dibantu,” kata Bang Usen.

Melalui program KUR, kelompok Bagan Bang Usen memperoleh tambahan modal usaha untuk operasional melaut. Dana tersebut digunakan membeli BBM, memperbaiki alat tangkap, membeli perlengkapan keselamatan, hingga membantu biaya kebutuhan selama di laut.

Yang paling penting bagi Bang Usen, mereka tidak lagi terikat sepenuhnya pada tengkulak. Kini hasil tangkapan bisa dijual dengan harga lebih baik kepada pembeli yang berbeda.

“Kalau dulu ikan harus dijual ke tempat yang memberi utang. Sekarang kami sudah lebih bebas,” katanya sambil tersenyum tipis.

Melaut dengan Tenang

Bagi Bang Usen, kebebasan terbesar bukanlah memiliki kapal besar atau penghasilan melimpah. Ia hanya ingin melaut dengan tenang.

Tanpa dibayangi tagihan rentenir setiap kali perahu berangkat dari dermaga. Tanpa rasa cemas ketika hasil tangkapan sedikit.
“Sekarang pikiran lebih ringan. Hasil sedikit tidak apa-apa, yang penting ada untuk makan keluarga, ada untuk sekolah anak,” tuturnya pelan.

Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi menyimpan beban hidup seorang ayah yang selama ini dipaksa bertahan dalam kerasnya kehidupan pesisir.

Bang Usen mengaku tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Ia hanya ingin keluarganya hidup cukup dan anak-anaknya memiliki masa depan lebih baik daripada dirinya.

Karena itu, sebagian hasil melaut selalu ia sisihkan untuk pendidikan anak-anaknya. Ia ingin anak-anaknya belajar agama di pesantren.

“Kalau bisa saya ingin anak jadi ustadz. Jadi orang beriman, hidupnya lebih baik daripada bapaknya yang cuma nelayan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Di rumah sederhananya, Bang Usen percaya pendidikan agama akan menjadi bekal paling penting bagi anak-anaknya menghadapi kehidupan.

Menabung untuk Tanah Suci

Selain menyekolahkan anak, Bang Usen juga menyimpan mimpi lain yang diam-diam terus ia perjuangkan. Pergi haji ke Tanah Suci.

Mimpi itu sudah lama tumbuh dalam dirinya sejak muda. Namun bagi seorang nelayan kecil, menabung untuk Ongkos Naik Haji (ONH) bukan perkara mudah.

Setiap rupiah yang tersisa dari hasil melaut harus dibagi untuk kebutuhan rumah, biaya sekolah, dan modal melaut berikutnya. Meski demikian, Bang Usen tidak menyerah.
Sedikit demi sedikit, ia mulai menyisihkan penghasilan untuk tabungan haji.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai menabung ONH. Mudah-mudahan ada rezeki dan umur panjang supaya bisa berangkat ke Tanah Suci,” ujarnya.

Baginya, keberhasilan bukan hanya soal materi. Bisa membawa keluarga hidup layak, menyekolahkan anak di pesantren, dan menunaikan ibadah haji sudah menjadi kebahagiaan besar dalam hidupnya.

Laut yang Menyimpan Risiko

Meski kondisi ekonomi mulai membaik, kehidupan nelayan tetap penuh ketidakpastian. Cuaca buruk masih menjadi ancaman terbesar.

Ketika angin utara datang dan gelombang meninggi, para nelayan sering memilih tidak melaut demi keselamatan.

Pada masa-masa seperti itu, pemasukan praktis berhenti. Namun Bang Usen mengaku kini setidaknya mereka memiliki perencanaan yang lebih baik dibanding sebelumnya.

“Kalau dulu tidak melaut satu minggu saja sudah panik karena dikejar utang rentenir. Sekarang kami lebih tenang,” katanya.

Ia berharap ke depan kelompok nelayannya bisa memiliki kapal sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada sewa. Dengan kapal sendiri, biaya operasional bisa ditekan dan penghasilan anggota kelompok akan lebih besar.

Selain itu, mereka juga ingin memiliki legalitas usaha yang lengkap agar bisa memperoleh akses BBM subsidi nelayan secara resmi.

Menjaga Harapan dari Pesisir

Saat malam tiba di Sungai Kakap, lampu-lampu kapal nelayan mulai terlihat berkelip di kejauhan. Suara mesin perahu memecah sunyi muara.

Besok dini hari, Bang Usen dan rekan-rekannya mungkin kembali melaut. Menantang ombak, cuaca, dan ketidakpastian laut.

Namun kini, setidaknya mereka tidak lagi sepenuhnya terjebak dalam lingkaran utang yang selama bertahun-tahun membelenggu kehidupan nelayan kecil.

Di balik wajah keras para nelayan pesisir itu, tersimpan keyakinan sederhana bahwa harapan bisa datang dari mana saja, termasuk dari kesempatan memperoleh akses permodalan dan pendampingan usaha yang selama ini terasa begitu jauh.

Dan bagi Bang Usen, laut bukan lagi sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah ruang untuk mempertahankan martabat hidup, membesarkan anak-anak dengan iman, menabung untuk berangkat haji, dan menatap masa depan dengan hati yang lebih tenang. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda